CERPEN

18 07 2012

         Semangat yang Luar Biasa

Ririn  adalah seorang anak dari orang tua yang miskin ,disa hidup dengan   susah payah ,tetapi ia tidak pernah mengeluh dengan kehidupannya sekarang.Karena dia sadar bahwa apa yang diberikan tuhan untuknya adalah yang terbaik untuknya. Oh ya orang tua Ririn bekerja sebagai petani sawit.

          Mentari pagi telah bersinar,di keluarga Ririn sangat sibuk, ayahnya menyapkan alat untuk bekerja, ibu menyiapkan sarapan,dan Ririn bersiap-siap untuk pergi sekolah. Wajah Ririn terlihat termenung, karena sepatu Ririn sudah rusak,ia tak mau bilang ke orang tuannya karena dia tak ingin merepotkan atau menyusahkan kedua orang tuanya. Setelah bersarapan Ririn berpamitan kepada kedua orng tuanya. ”Pak Buk, Ririn berangkat dulu ya” kata Ririn sambil mencium tangan kedua orang tuanya.

          Waktu terus berlalu, Ririn pun tiba di sekolah. Sesampainya di sekolah Ririn di ejek oleh temn-temnnya karena melihat sepatu Ririn yang rusak. ”iiiiih sepatunya kamseupay” kata Adea yang mengejek Ririn, tetapi Ririn tidak marah ia tetap semangat walaupun dengan sepatu yang sudah rusak.

          Terik matahari semakin terasa, akhirnya Ririn pulang dari sekolah. Waktu terus berlalu ia berjalan jauh ke rumah,dan akhirnya ia sampai di rumah. orang tuanya  masih bekarja di ladang milik juragan sawit, Ririn lalu pergi untuk membantu orang tuannya. ”pak bu!!! “ teriak Ririn memanggil-manggil orang tuanya, ”ndok ngapain kamu kesini, “sudah pulang saja, bapak dan ibu sudah mau selesai kok” kata ibu.” iya ndok pulang saja” ujar ayah.

          Akhirnya Ririn pulang, tetapi dia tidak ke rumah melainkan mencari pekerjaan agar ia mendapat uang untuk membeli sepau baru tanpa meminta kepada orang tuanya. ”aku harus mencari pekerjaan, tapi apa ya…?” kata Ririn. Tak lama kemudian Ririn menemukan cara agar ia bsa mendapatkan uang, yaitu dengan cara mengamen. Ririn menyiapkan alat untuk dibawa ngamen, setelah selesai ia segera pergi mengamen, dan tiba-tiba ”hai Rin” ujar Dika sambil tersenyum memandang Ririn. ”eh Dika ada apa, kok disini bikin kaget saja” kata Ririn. ”ooh tidak ada apa-apa,kamu mau kemana Rin” tanya Dika. ”gak kemana-mana, aku Cuma mau pergi mengamen. ”jawab Ririn. ”haaaa ngamen, mang buat apa Rin ”Tanya Dika kembali sambil keheranan melihat Ririn yang ingin pergi mengamen. ”udahlah Dik gak usah banyak Tanya, nanti aku kesorean pulangnya” jawab Ririn sambil berwajah kesal.” Ya dah aku boleh bantu gak’ Tanya Dika,” boleh-boeh aja,tapi bener kamu mau bantu aku.” jawab Ririn. ”ya ya lah” ujar Dika kepada Ririn. Ya udah, yuk kita berangkat.

          Ririn dan Dika akhirnya berangkat mengamen bersama,Dika bekerja keras untuk membantu Ririn. Akhirnya hari semakin sore Dika dan Ririn segera pulang ke rumah mereka masing-masing. Setibanya di rumah, Dika dimarah-marahi oleh ibunya karena pulang terlalu sore. Dan ibu Dika berkata ”Dika, besok kamu tidak boleh main lagi apalagi kalau kamu membantu Ririn.” ”Iya Bu” Jawab Dika sambil menampakkan wajah yang murung.

          Mentari pagi telah tersenyum, Ririn segera bangun dan bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Ririn telah menabungkan uang yang kemarin ia dapat setelah mengamen, karena ia mau membeli sepatu yang layak ia pakai, tetapi ia berusaha sendiri tanpa meminta uang kepada orang tuanya. Ririn berpamitan kepada ayah dan ibunya, setelah itu ia segera pergi sekolah sambil berjalan kaki, karena Ririn tidak memiliki kendaraan untuk dinaiki ia berjalan kaki. Tapi ia tak pernah mengeluh justru ia malah tersenyum gembira karena ia tidak meminta kepada orang tuanya untuk membelikan sepeda atau kendaraan lain, ia sadar bahwa hidup adalah sebuah perjuangan selalu banyak rintangan yang harus dihadapi.

          Setelah berjalan jauh akhirnya Ririn sampai di sekolah dan ia segera masuk kelas, dan bel masuk pun berbunyi.”teng..teng..teng” suara lonceng yang bertanda masuk. Ririn anak yang pandai di kelasnya walau dia hanya anak seorang petani sawit, tapi dia memiliki semangat yang luar biasa.

          Tak lama pun pelajaran sekolah selesai, Ririn segera pulang karena ia harus pergi mengamen agar mendapat uang untuk bisa membeli sepatu baru. Hari-hari terus berlalu tiada pernah berhenti beribu rintangan, jalan berliku bukan suatu penghalang bagi Ririn untuk mencapai apa yang dia mau.

          Dika pun menemui Ririn untuk mengatakan sesuatu, ternya ia ingin meminta maaf pada Ririn karena hari ini ia tidak bisa membantu Ririn untuk mengamen. ”Rin maafin aku ya, karena aku gak boleh lgi membantu kamu.” kata Dika. ”Yaa papa Dik, lagian kan ini bukan pekerjaan kamu juga” jawab Ririn, ”tapi Rin.” kata Dika ”gak usah tapi-tapi aku bias kok kerja sendiri, oh ya makasih ya udah mau bantu aku kemarin” jawab Ririn sambil tersenyum kepada Dika. Dan akhirnya Ririn mengamen sendirian, tapi ia tidak patah semangat, dan terus berusaha untuk tidak banyak mengeluh.

          Setelah beberapa hari mengamen ia pun membuka celengannya, dan ternyata ia sudah banyak mengumpulkan uang dan munkin sudah cukup untuk membeli sepatu baru. Hari Minggu pun tiba, Ririn sudah bersiap-siap pergi ke pasar untuk membeli sepatu yang selama ini ia idamkan.

          “Wah akhirnya aku bisa membeli sepatu baru,” ujar Ririn dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri. Dia berjalan ke pasar sambil menunjukkan wajah yang ceria. Tiba-tiba bertemu seoarang pengemis yang kelaparan. Ia sangat merasa kasihan terhadap orang itu, dan dengan berat hati ia merelakan sedikit uangnya yang telah ia tabung selama ini. ”Pak, kebetulan saya punya sedikit uang untuk bapak yang mungkin bisa untuk membeli makan untuk bapak” ujar Ririn kepada pengemis itu. ”terima kasih nak” jawab pengemis tua.

          Hati Ririn memang sangat mulia,dengan ketulusan hati Ririn, ada sebuah keajaiban untuknya, tak sengaja Ririn menolong ibu-ibu yang mau menyebrang jalan, setelah menolong Ririn diberi uang. Sebenarnya ia tidak mau menerima uang itu, karena ia menolong dengan ikhlas. ”nak ambillah tidak apa-apa.” kata ibu-ibu itu. ”tidak usah bu saya ikhlas kok.”jawab Ririn.” nak, ini hitung-hitung sebagai tanda terima kasih ibu” ujar ibu tersebut,” ya sudah kalo memang ibu memaksa saya terima uangnya.”jawa Ririn sambil berwajah cemas.

          Dan akhirnya uang yang tadi ia dapat ia belikan sepatu yang selama ini ia idam-idamkan. Setelah membeli sepatu ia segera pulang dan memberi tahu kepada ayah dan ibunya.

          “Pak,Bu coba lihat apa yang Ririn bawa” teriak Ririn sambil tersenyum bahagia.

          “Memangnya apa nak yang kamu bawa” Tanya orang tua Ririn.

          “Nie Pak,Bu Ririn sudah membeli sepatu dengan uang tabungan Ririn”ujar Ririn.

“Ya syukurlah nak, maafkan bapak dan ibu ya, karena tidak bisa membelikan kamu sepatu baru” ujar ibunya smbil meneteskan air mata bahagia.

          “Tidak apa-apa Pak,Bu. Saya senang kok bisa membeli sepatu dengan uang Ririn dan tidak merepotkan bapak dan ibu” Jawab Ririn sambil tersenyum bahagia.

          Nah jadilah orang yang bisa membanggakan orang lain, dan teruslah bersemangat, dengan semangat yang luar biasa. Seperti apa yang telah di lakukan Ririn, ia bisa membeli sepatu tanpa menyusahkan orangtua.

SMP Pesona Astra, 31 Mei 2012

Karya: Tri Lestari


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: